Secangkir Kopi dalam Kehidupanku

Secangkir kopi rasanya lebih berharga dari apapun. Setiap hari, aku harus meminumnya. Kopi seperti air kehidupan yang membangunkan aku dari tidurku. Rasanya, ketika aku belum minum itu jiwaku terlelap. Aku seperti lesu tak berdaya. Aku, rasanya tidak mampu mengerjakan satupun pekerjaan tanpa diawali dengan kopi. Apakah ini hanya perasaanku saja? Entahlah, tapi memang itu yang aku rasakan.

Secangkir Kopi di Rumah

Secangkir Kopi di Rumah

Jaman dulu, aku selalu bekerja ditemani rokok dan kopi. Kombinasi kedua komponen tersebut serasa menghidupkan inspirasiku. Aku, rasanya tidak perlu berpikir keras untuk dapat menemukan solusi. Aku hanya butuh meminum kopi kemudian menghisap rokok lalu inspirasi datang dengan sendirinya. Ini aneh, tapi itulah yang aku rasakan. Sekarang aku sudah meninggalkan rokok-ku. Hal ini karena rokok sangat berbahaya. Mau tidak mau aku harus meninggalkannya. Sampai sekarang.

Bagaimana dengan kopi. Memang kopi tidak seberbahaya rokok. Tapi, suatu hari aku pernah benar-benar mencoba untuk tidak meminum kopi. Aku mencoba untuk mengganti kopi dengan segelas susu. Hal ini ternyata hanya berjalan selama 1 minggu saja. Setelah seminggu berlalu aku kembali minum kopi. Menurutku rasanya lebih nikmat dari segelas susu.

Secangkir Kopi saat Bekerja

Secangkir Kopi saat Bekerja

 

Aku mengenal kopi sejak aku masih kecil. Namun aku mulai benar-benar aktif ngopi sejak aku dewasa. Jaman SMA sebenarnya aku juga sudah ngopi, tapi tidak setiap hari. Hanya pada minggu pagi. Ngopinya bersama ayah. Ngobrol sambil ngopi rasanya nikmat sekali.

Sejak banyak tugas-tugas kuliah yang menumpuk ngopi-ku jadi semakin menggila. Sehari, aku bisa habis 3 gelas kopi. Selain sebagai obat anti ngantuk, kopi juga sebagai teman yang selalu setia dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah. Jaman kuliah, aku juga mulai mengenal rokok. Kombinasi rokok kopi yang selalu menemani.

Secangkir Kopi saat Belajar

Secangkir Kopi saat Belajar

Secangkir kopi juga selalu menemani ketika berkumpul bersama teman-teman. Kami selalu berkumpul dan kami sebut itu dengan istilah ngopi. Padahal beberapa teman, ketika berkumpul tidak memesan kopi. Tapi, begitu kopi.

Kini, setiap pagi aku juga selalu minum kopi. Aku selalu tiba di kantor kurang dari jam 7 dan aku membuat secangkir kopi. Ya, aku berusaha membuat kopi sendiri, tidak dibuatkan. Setelah kopi-nya jadi aku baru mulai pekerjaan pertamaku, yaitu coding atau mengentri surat.

Setelah ini, ada kemungkinan kantorku akan pindah. Di kantor yang baru ada kemungkinan kami tidak memiliki dapur. Akhirnya, bisa jadi aku tidak bisa membuat kopi sendiri. Tak apalah, yang penting aku bisa ngopi.

Senja di Kantor

Ketika senja telah tiba dan aku masih berada di kantor dengan cangkir kosong.