Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Pengalaman Pertama Menggunakan Linux

Kali ini aku ingin menceritakan pengalaman pertamaku menggunakan linux. Tak terasa sudah 8  tahun lamanya aku menggunakan linux sebagai sistem operasi utama. Aku menggunakan linux untuk menulis, membuat program, menonton film, hingga mengedit photo dan video. Banyak yang bilang menggunakan linux itu susah, awalnya aku juga merasa demikian. Namun kelihatannya semua ini hanyalah faktor kebiasaan. Jika kita sudah terbiasa, menggunakan linux itu mudah sekali.

Asalan aku menggunakan linux

Mungkin tidak banyak yang tahu berapa harga windows asli, berapa harga Microsoft Office, berapa harga adobe photoshop, berapa harga Delphi, berapa harga Visual Basic, dll. Sekedar tahu saja, kalau kita membeli semua software asli, harganya lebih dari harga komputer kita. Untuk kelas mahasiswa (dulu saya masih mahasisa) rasanya cukup berat untuk membeli itu semua. Padahal, aku ingin-nya menggunakan software asli. Biar barokah vroh. hehe

Suatu hari aku browsing dan aku menemukan tentang Linux. Linux merupakan sistem operasi yang Free dan Open Source. Pada saat itu aku tidak tahu apa yang namanya software Free dan Open Source. Kita bisa bebas menggunakan linux tanpa harus bayar lisensi (gratis.. tis.. tis..). Selain itu kalau bisa, kita juga bisa memodifikasinya.

Linux Pertamaku

Semakin lama, aku semakin penasaran ingin mencoba linux ini. Ternyata, salah satu temanku ada yang punya linux ubuntu. Aku dipinjami, dan aku menginstall-nya dikomputer. Akan tetapi, apa yang aku dapat? Ternyata aku salah menginstall ubuntu server. Apa bedanya? Secara default Ubuntu Server tidak memiliki tampilan atau biasa disebut Desktop Environment. Dia hanya berupa Command Line Interface (CLI). Bentuknya seperti ketika kita masuk pada DOS. Jadi untuk memberikan perintah pada komputer kita harus mengetikkannya, tidak asal klik seperti di windows pada umumnya. Kita harus mengetikkan semua perintah. Contohnya, jika kita ingin membuat dokumen text kita harus ketik: nano test.txt. Jika kita ingin masuk folder kita ketikkan perintah cd /home/ardhan/Documents. Dan masih banyak lagi perintah-perintah yang harus kita ketikkan. Pusing? Ya jelas saya pusing. Seperti inilah tampilan perintah pada CLI.

Pengalaman Menggunakan Linux CLI

Command Line Interface pada linux. Gambar ini adalah gambar terminal, bukan CLI. Tapi, perintahnya sama.

Aku penasaran lagi, apakah seperti ini yang namanya linux? Kalau seperti ini, bisa pusing kepala aku. Kemudian aku browsing lagi. Ternyata ada yang namanya Desktop Environment (DE). DE ini selain tampilan juga punya satu set paket aplikasi. Misal, aplikasi untuk file manager, browser, dan pengolah dokumen. Ada banyak DE, misalnya: GNOME, KDE, LXDE, XFCE, Cinnamon, MATE, Unity, dll. Jaman pertama menggunakan linux dulu kayanya belum ada Cinnamon, MATE sama Unity.  Setiap DE memiliki paket aplikasi yang berbeda-beda. Misal gnome menggunakan Nautilus sebagai File Manager tapi KDE menggunakan Dolphin. Seperti inilah contoh Dolphin.

Aplikasi Dolphin File Manager

Aplikasi Dolphin File Manager

Pilihan pertamaku untuk DE adalah KDE. Kenapa menggunakan KDE? Ceritanya jaman dulu internet itu lambat. Tidak seperti sekarang. Sekarang mau download 1 GB bisa 15 menit. Kalau dulu? Ampun bos. Donwload ukuran 100MB aja bisa sejam lebih. Trus dengan kecepatan internet jaman dulu mau donwload DE? ya ampun aja. Lebih baik pinjem yang sudah punya. Kebetulan ada teman yang punya KUbuntu. KUbuntu adalah linux ubuntu yang menggunakan KDE sebagai DE-nya.

Nah, dari sini aku sudah mulai belajar aplikasi-aplikasi di KDE. Aku belajar cara membuat dokumen dengan Open Office. Aku sudah belajar bagaimana menggunakan perintah-perintah yang ada di terminal. Namun, perjalananku dengan Linux tidak berakhir sampai disitu saja. Tapi, untuk sementara, tulisan ini sampai di sini saja. hehe. Lain waktu dilanjut dengan pengalaman yang lain.