Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Asosiasi pada Diri Seorang Manusia

Asosiasi pada Diri Seorang Manusia. Kali ini aku tidak bicara tentang pemrograman. Aku hanya menyampaikan sebuah pemikiran yang sedikit amburadul di hari libur. Aku akan membahas tentang asosiasi pada diri seorang manusia. Kita samakan persepsi dulu tentang apa itu asosiasi. Asosiasi yang aku maksud adalah “menautkan sesuatu kepada sesuatu”.Kenapa aku ingin membahas hal ini? Karena manusia hidup menggunakan 2 hal tersebut. Setiap orang pasti menggunakan asosiasi dalam hidupnya.

Contoh dari asosiasi adalah ketika saya merasa bahwa daging berlemak itu sangatlah enak, tapi teman saya yang menderita darah tinggi pasti akan bilang bahwa daging berlemak itu tidak enak. Tidak enak karena dia menautkan daging berlemak dengan penyakit darah tinggi yang akan semakin memburuk. Asosiasi dalam diri manusia ini dibentuk oleh keadaan lingkungannya. Contohnya darah tinggi tadi, membentuk asosiasi antara penyakit dengan daging berlemak. Namun, ada juga asosiasi yang dibangun oleh manusia itu sendiri. Contohnya adalah ketika seorang mengasosiasikan olahraga dengan sehat. Dan seorang yang lain mengasosiasikan olahraga dengan capek.

Untuk dapat memiliki kualitas hidup yang luar biasa, kita perlu mewaspadai asosiasi-asosiasi yang tidak tepat yang ada dalam diri kita. Baik itu yang terbangun maupun yang kita bangun sendiri. Setiap asosiasi seharusnya membawa kita kepada kebaikan. Jangan sampai asosiasi yang terbangun dalam diri kita membawa keburukan dalam jangka panjang.

Para pengiklan biasanya memanfaatkan teori asosiasi ini untuk mempromosikan produknya. Contohnya adalah iklan rokok. Iklan rokok tidak pernah memperlihatkan efek buruk dari rokok. Setiap iklan rokok, pasti menampilkan orang-orang yang tampil keren dan jantan. Padahal orang-orang dalam iklan rokok itu tidak merokok. Kok bisa ya? Iklan tersebut cukup mampu membuat orang terkesan jantan jika merokok. Asosiasi ini menurutku sih salah. Tapi orang lain bisa menganggap asosiasi ini benar bahwa merokok adalah jantan.

Tidak hanya pengiklan saja yang menggunakan teori asosiasi, para juru kampanye juga menggunakan teori asosiasi ini untuk membentuk asosiasi kita bahwa jika kita memilih pasangan calon A maka keadaan semakin baik jika memilih B keadaan tidak akan baik dan malah makin buruk. Ketika sudah terbentuk asosiasi ini, apapun akan kita lakukan untuk mendukung. Misal suatu ketika pasangan A terpilih, namun keadaan tidak makin baik. Orang yang berasosiasi bahwa “jika A jadi pemimpin keadaan semakin baik” akan mencari-cari apa saja yang baik dan mengabaikan apa yang buruk. Begitu pula sebaliknya jika B yang terpilih dan keadaan semakin baik, pendukung A pasti mencari-cari yang buruk sesuai dengan asosiasinya.

Berbeda asosiasi berbeda pula kualitas hidup seseorang. Misalnya asosiasi seorang pekerja. Ada seseorang yang mengasosiasikan kerja dengan mencari uang. Maka dia berusaha menggunakan tenaga sesedikit mungkin untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin. Ada seorang lagi yang mengasosiasikan kerja dengan tantangan. Maka dia akan malas jika mengerjakan hal-hal sepele yang tidak menantang. Ada juga seorang yang mengasosiasikan kerja adalah berkarya. Maka orang itu belum merasa bekerja jika tidak ada yang dihasilkan. Dan masih banyak lagi asosiasi-asosiasi yang lain.

Untuk menjadi lebih bijak, kita perlu berfikir secara benar dan tepat. Kita harus berani mengakui yang baik adalah baik dan yang buruk adalah buruk. Yang baik dibuat menjadi lebih baik dan yang buruk diperbaiki. Marilah kita coba untuk mengkoreksi asosiasi-asosiasi dalam diri kita masing-masing. Apakah asosiasi kita membawa pada kebaikan atau pada keburukan.