Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Linux Manjaro 18

Linux Manjaro 18 merupakan Ditsro yang diturunkan dari Distro populer, yaitu Arch Linux. Kali ini aku akan share pengalamanku menggunakan Linux Manjaro setelah seminggu ini aku menggunakannya. Tapi, sebelum share rasa menggunakan manjaro aku akan ceritakan bagaimana awalnya aku memilih Linux Manjaro ini.

Minggu kemarin, Laptop baru dari kantor tiba, Laptop tersebut adalah Dell XPS 15 9560. Laptop tersebut sudah masuk dalam kategori ultrabook. Dari tampilan, laptopnya sangat keren. Dalam laptop itu sudah ada bawaan Windows 10. Tapi, windows bukanlah style-ku, yang pasti aku adalah Linux Lover. Bagaimanapun ribetnya, yang penting aku pengguna linux sejati. hehe. Pilihan pertama yang akan aku install tentu saja Fedora. Peralatan untuk menginstall Fedora telah siap, hingga akhirnya aku menginstall. Beberapa kali mencoba tidak berhasil. Akhirnya berhasil setelah menonaktifkan graphics bawaan dengan cara menambahkan nouveau.modeset = 0 pada grub.

Tidak sampai 10 menit, installasi selesai. Kemudian, aku reboot-lah laptop ini. Sudah masuk ke Fedora, ternyata adalah masalah baru. Tiba-tiba laptopnya freze setelah beberapa saat masuk displaynya. Sampai 3 kali reboot, masih tetap freze. Akhirnya aku masuk ke level 3, yaitu terminal. Kemudian login dari terminal. Beberapa saat kemudian, muncul error bahwa terjadi konflik proccessor. Tiba-tiba saja beberapa core tidak bisa berjalan. Sekedar info laptop dell ini ada 8 core. Kalau tidak salah 2 atau tidak core yang tidak respon. Aduh, masalah apa ini. Browsing-browsing akhirnya ketemu. Setelah pada saat install nouveau juga harus di-modeset=0. Sebelumnya aku juga pernah menulis tentang Fedora

Linux Fedora sudah berjalan lancar pada laptop Dell ini. Nah, ternyata eh ternyata laptop dell ini layarnya 4K, tulisannya semua jadi kecil-kecil banget. Di-scale gak bisa. Aduh, repot banget. Coba-coba untuk install driver nvidia juga kagak berhasil. Akhirnya aku putuskan untuk menyerah, aku ingin mencari Linux yang lain. Sekalian ganti suasana.

Browsing-browsinglah aku dan ketemulah aku dengan Manjaro. Awalnya aku ingin sekali menggunakan arch, karena di facebook, Arch ini sangat sering muncul diberanda. Tapi, aku selalu beracuan pada distrowatch.com disana muncul nomor 1 adalah Manjaro. Aku tanya-tanya ke google siapa si Manjaro ini sehingga mentereng di nomor distrowatch. Ternyata dia adalah turunan dari Arch. Sangat kebetulan, akhirnya tanpa pikir panjang aku download saja. Internet UM sangat kencang, sehingga download Manjaro 2 GB tidak membutuhkan waktu lama.

Langsung saja aku buat installasi Manjaro ke FlashDisk dan mulai menginstall manjaro. Ternyata di Manjaro, aku harus tetap menonaktifkan nouveau dengan cara nouveau.modeset = 0. Tidak apa-apalah. Untuk instalasi kali ini aku memilih untuk menggunakan DE KDE. Biasanya aku menggunakan DE GNome. Tapi, karena tadi ceritanya ingin ganti suasana tentu saja DEnya juga harus ganti.

Tidak butuh waktu lama untuk menginstall Manjaro, hanya beberapa menit saja installasi selesai. Langsung aku dibawa pada tampilan Manjaro KDE yang menurutku cukup elegan. Seperti biasa, setelah menginstall linux, yang selanjutnya dilakukan adalah update repository, update package dan kemudian install-install aplikasi. Pada manjaro ini, perintah yang digunakan berbeda, untuk install aplikasi digunakan perintah:

sudo pacman -S nama_aplikasi